Oleh : Piqi Pensil
Banyak peristiwa mengejutkan yang terjadi selama Indonesia Contemporary Ceramic Biennale (ICCB) berlangsung, salah satu di antaranya adalah terpikatnya anak-anak sekolah dasar kepada Kumbang. Kumbang yang dimaksud bukan lah kumbang yang biasa terbang ke sana kemari lalu hinggap di bunga – bunga dan tanaman, namun kumbang yang dimaksud adalah kumbang yang hinggap di studio keramik milik Jebor SDN Super (Sukaraja Kulon). Kumbang adalah istilah kami untuk menyebut peluit kecil seukuran telur puyuh dengan bentuk dan ukiran unik menyerupai kumbang yang diberi tali , sehingga dapat digunakan sebagai kalung yang dapat ditiup.
Studio Jebor SDN Super merupakan salah satu studio yang disiapkan oleh Posko Suara Tanah sebagai program utama ICCB. Target dari studi-studio baru ini adalah berkolaborasi dengan seniman residensi ICCB untuk menghasilkan bentuk-bentuk baru atau diversifikasi produk di luar genteng sebagai basis dari gagasan membangun kota terakota, yang menjadi cita-cita jangka panjang wilayah Jatiwangi.

Seniman pertama studio SDN Super adalah Weichein Huang yang berasal dari Taiwan. Setiap hari Weichien berangkat pagi dari JaF dan pulang malam. Kedatangan orang asing untuk ikut bekerja di pabrik tersebut cukup mengejutkan bagi warga sekitar, khususnya pemilik, karyawan pabrik genteng, dan tetangga sekitar. Anak-anak Sekolah Dasar (SD) pun kerap datang ke studio tersebut sepulang sekolah. Sekedar melihat Weichen yang bekerja membuat patung, atau memperhatikan anak-anak Posko Suara Tanah yang bekerja di studio tersebut membuat peluit kumbang. Mereka tampak begitu antusias melihat seluruh prosesnya.
Ada sebuah peristiwa lucu. Ketika kami sedang istirahat sambil ngopi, anak-anak SD yang kerap datang mengambil sebagian kumbang yang sedang kami keringkan di rak tempat menjemur genteng secara diam-diam. Kami mendiamkan tingkah tersebut, karena kami pikir mereka sangat ingin memiliki kumbang tersebut tapi malu untuk membicarakannya. Kami sangat senang meskipun mereka mengambilnya tanpa izin.

Besoknya, kami kembali bekerja seperti biasa. Weichein menyelesaikan patungnya, dan kami membuat lagi kumbang dengan target pembuatan yang cukup banyak. Menjelang sore, anak-anak yang kemarin mengambil kumbang datang lagi. Mereka tampak sangat gembira. Mereka menghampiri dan memperhatikan kami dengan tertawa riang. Satu di antara mereka memulai pembicaraan dengan meminta beberapa kumbang. Kami sangat terkejut karena merasa mereka telah mengambil kumbang sangat banyak kemarin. Saya bertanya, “terus kumbang yang kemarin kalian ambil di kemanakan? “. Wajah mereka pucat dan malu. Mereka mengangkat kepala sambil mengambil sesuatu dari saku. Dengan nada malu dan sedikit tertawa, mereka berkata “ kumbang anu kamari di cokot ku urang teh di jualan ka babaturan a, hargana aya nu goceng aya nu ceban, jeung iyeu artosna meunang sakiyeu, da acan di jajankeun, terus da memang ku urang rek di pasihkeun ka si aa, beh kena di bagikeun artos namah ku si aa bae, panan aa nu nyieun na hehehehe”. (“Kumbang yang kemarin diambil saya jual ke teman-teman a, harganya ada yang 5 ribu rupiah dan ada yang 10 ribu. Ini uangnya dapat segini, belum dijajankan. Lagian memang uangnya mau saya berikan ke kamu, biar nanti aa yang membagi uangnya ke saya, kan aa yang membuat, hehehe”.).

Saat itu kami tercengang campur bangga kepada mereka. Di samping mereka mengakui kesalahan, sudah berupaya untuk mandiri, dan secara tidak langsung meereka sudah melakukan promosi dan membuatkan pasar bagi produk yang kami buat di studio ini.
