Ubin Hias = Menu Baru Tanah Jatiwangi

oleh Tommi Pringadi

Tantangan terberat pada penyelenggaraan ICCB adalah bagaimana membuat gagasan-gagasan yang ditawarkan, dapat diterima oleh masyarakat Jatiwangi. Mengutip Ridwan Kamil, “Kita harus menambah menu (produk dari tanah liat-red) baru”. Namun, apakah pelaku genteng mampu menangkap, bahwa mereka juga sebenarnya bisa membuat produk tanah lainnya?

Untuk itulah ICCB membuat Studio Jebor; tempat di mana warga dapat membuat produk-produk baru dari tanah Jatiwangi selain genteng. Studio ini dibuat di beberapa jebor antaranya; Jebor Dwi Karya, Jebor Super Fajar, Jebor AZR dan Jebor SDN. Studio ini juga dibayangkan sebagai galeri yang akan memuat karya terakota dari warga. Illa Syukrillah Syarief atau akrab disebut Kadus Illa adalah salah satu yang berperan dalam mewujudkan studio ini. Misi pertamanya adalah mengajak warga untuk ‘bermain’ tanah, lalu dipamerkan. Pertanyaan yang lahir kemudian, “Bagaimana cara mengaktivasi studio tersebut ? Maukah warga membuat karya?”

Illa sadar betul, bahwa ia tak bisa mengajak orang-orang agar mau berkarya, dengan berbicara dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Atau berdiri di jalan raya, dengan membawa spanduk besar bertuliskan “Mari berkarya, lalu pameran!”. Setelah dipertimbangkan matang, ia memutuskan untuk mengemas ajakan berkaryanya ini ke dalam bentuk kompetisi, yakni Lomba Ubin Hias yang bertempat di Jebor Dwi Karya, Desa Burujul Wetan.

Kepada saya, Kadus Illa berceritakan soal kebiasaan guru di sekolah-sekolah Jatiwangi yang memberi pertanyaan sebelum pulang sekolah. Siapa yang paling cepat menjawab, diperbolehkan pulang lebih dulu. Ini dapat dimengerti, sebab walaupun usia kami berbeda lebih dari satu dekade, saya juga mengalami ini saat bersekolah di Jatiwangi. Karena sistem ranking, saya rasa mentalitas ini tertanam di masyarakat Indonesia umumnya. Kita, terlalu akrab dengan pola kompetisi.

Illa juga merupakan salah satu penggagas kegiatan dengan pola kompetisi lainnya; Binaraga Jebor atau Jatiwangi Cup. Acara itu tak hanya spesial ke luar, namun juga istimewa ke dalam. Tak hanya ramai pemberitaan di media-media, namun juga menjadi topik pembicaraan dari mulut ke mulut di Jatiwangi. Sebab, baik Jatiwangi Cup atau lomba ubin hias, dua-duanya melibatkan masyarakat umum.

Matahari baru saja bergeser, orang-orang baru selesai sholat jumat. Pukul 2 siang, orang-orang mulai berdatangan. Sukar dipercaya, ada 25 ubin hias yang menunggu untuk dinilai. Sebagai acara perdana, tentu saja 25 merupakan angka yang baik. Lomba ubin hias ini asing sekaligus familiar bagi orang Jatiwangi. Walaupun berbeda dengan genteng, nyatanya ubin hias ini juga terbuat dari tanah. “Tanah bisa kita jadikan sebagai sarana bergaul. Sebagai alat untuk mencari teman, dan berjejaring,” tambah Kadus Illa. Acara ini juga diselingi oleh lomba karaoke bagi para supporter peserta ubin hias dan bagi warga disekitar Jebor Dwi Karya yang semakin banyak datang memeriahkan suasana.

Juara pertama Lomba Ubin Hias ini dimenangkan oleh Eka dari pabrik genteng PLJ. Ia menggambarkan proses membakar genteng, yang juga merupakan aktivitas keseharian dari Eka sebagai pengrajin genteng. Penilain karya-karya tersebut berdasarkan pertimbangan para juri yang menilai dari segi bentuk, kemampuan teknis, dan kemampuan menarasikan sebuah cerita pada karya ubin tersebut.

Acara ini juga menolak menggunakan medali atau uang untuk mengapreasiasi para juara, melainkan menggunakan beras, “Kalau tropi, medali itu, sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Namun kita butuh makan setiap harinya, uang juga paling digunakan untuk membeli makanan. Ini juga sebagai bentuk penghargaan kami pada petani lokal,” tukas Illa ketika ditanya perihal alasannya. Juara 1 mendapatkan 130 kg beras, juara 2 mendapatkan 80 kg, dan juara 3 mendapatkan 70 kg beras. Dan seluruh peserta yang terlibat dalam lomba ini diberikan masing-masing 10 kg beras.

Illa berharap, perlombaan ini dapat mendorong warga untuk mengolah tanah hingga melahirkan ‘menu’ baru dari tanah Jatiwangi. Sebagai upaya mewujudkan Kota Terakota, maka dibutuhkan orang-orang yang mahir dalam mengolah tanah. Studio Jebor bisa menjadi wadah di dalam melahirkan orang-orang tersebut.

Leave a comment